Damhuri Muhammad
Anak-anak Masa Lalu
September 16, 2018 Comments.. 740
Anak anak Masa Lalu Ditengah maraknya tren penulisan fiksi yang kian berkutat pada cerita cerita dan permasalahan remaja kota besar Damhuri Muhammad tetap setia menjelajah inspirasi sastranya dari pergulatan hidup di udi

  • Title: Anak-anak Masa Lalu
  • Author: Damhuri Muhammad
  • ISBN: 9789791260466
  • Page: 472
  • Format: Paperback
  • Ditengah maraknya tren penulisan fiksi yang kian berkutat pada cerita cerita dan permasalahan remaja kota besar,Damhuri Muhammad tetap setia menjelajah inspirasi sastranya dari pergulatan hidup di udik.Dari legenda tentang manusia anjing, jimat sakti preman pasar, cinta terlarang,jurus silat, dan korupsi yang berurat sampai ke pelosok, Damhuri menunjukkan bahwa ditengah geDitengah maraknya tren penulisan fiksi yang kian berkutat pada cerita cerita dan permasalahan remaja kota besar,Damhuri Muhammad tetap setia menjelajah inspirasi sastranya dari pergulatan hidup di udik.Dari legenda tentang manusia anjing, jimat sakti preman pasar, cinta terlarang,jurus silat, dan korupsi yang berurat sampai ke pelosok, Damhuri menunjukkan bahwa ditengah gempuran modernitas yang memabukkan, orang orang biasa tetap membawa dalam diri mereka jejak jejak masa lalu yang tak terhapuskan.

    • Unlimited [Nonfiction Book] ☆ Anak-anak Masa Lalu - by Damhuri Muhammad ↠
      472 Damhuri Muhammad
    • thumbnail Title: Unlimited [Nonfiction Book] ☆ Anak-anak Masa Lalu - by Damhuri Muhammad ↠
      Posted by:Damhuri Muhammad
      Published :2018-09-16T01:24:43+00:00

    1 Blog on “Anak-anak Masa Lalu

    1. Akhfhin Rahardhiyanto says:

      Rated 3.5 / 5 starsSinopsis:Ditengah maraknya tren penulisan fiksi yang kian berkutat pada cerita-cerita dan permasalahan remaja kota besar, Damhuri Muhammad tetap setia menjelajah inspirasi sastranya dari pergulatan hidup di udik.Dari legenda tentang manusia anjing, jimat sakti preman pasar, cinta terlarang, jurus silat, dan korupsi yang berurat sampai ke pelosok, Damhuri menunjukkan bahwa ditengah gempuran modernitas yang memabukkan, orang-orang biasa tetap membawa dalam diri mereka jejak-jeja [...]

    2. Masyhur Hilmy says:

      "Akulah lemang, engkaulah tapai. Cintaku basi tanpamu," ikrarmu. Selalu.Ada lebih dari satu cara memaknai masa lalu, tapi "Lelaki Ragi dan Perempuan Santan" ini berbahaya bagi mereka yang baru-baru saja nggerus--bayangkan saja si lelaki setia menolak rantang gulai kentang dengan kuah yang kental dan kentang yang kempuh sempurna sebagai tanda pinangan, semua demi menanti si wanita. Namun si wanita justru menerima pinangan pengusaha dari Jakarta. Ada simetri di cerpen-cerpen Damhuri. Di "Reuni Dua [...]

    3. Diana says:

      Bagian paling "menyenangkan" justru ada di epilognya. Karena ternyata pengalaman pribadi penulis lebih penuh drama dari apa yang direkanya menjadi cerita. Pengalaman tinggal di kampung ternyata memang menumbuhkan "dendam" tersendiri, tentang bagaimana perlakuan bak raja bagi si kaya, para orang tua yang rela merendahkan diri serendah-rendahnya, serta perjamuan mewah yang mengorbankan segala yang dimiliki seorang bocah.Damhuri Muhammad berhasil membawa saya "pulang kampung" lewat imajinasi. Berba [...]

    4. Biondy says:

      Akhirnya buku ini tiba juga. Kalau disuruh pilih juara dua untuk KSK, saya bakal pilih buku ini. Review lengkap menyusul.Edit: ampun, bukunya saya lupa taruh di mana :'). Yang pasti, ini salah satu kumpulan cerpen yang ndeso. Suatu hal yang diakui oleh si penulis bahwa dia memang tidak bisa lepas dari desa.

    5. Hesti Pratiwi says:

      menjadi daerah kunjungan wisata tiada bakal merusak nyatanya?

    6. Yudhi Herwibowo says:

      Pernah ada sebuah masa, di sekitar tahun 2000an, sebuah penerbit ternama begitu getol menerbitkan kumcer. Adalah penerbit buku Kompas namanya. Walau bukan sebagai pionir dalam hal kumcer, namun langkahnya kala itu begitu dikenang kuat, karena pada saat itulah kita dapat menemukan dengan mudah kumcer-kumcer dari penulis–penulis cerpen yang selama ini hanya bisa kita baca di koran. Tak kurang dari Jujur Prananto, Agus Noor, Taufik Ikram Jamil, Cecep Syamsul Hari, Hamsat Rangkuti, Umar Kayam, Isb [...]

    7. komang shary says:

      Jujur, saya sering takut membaca cerpen dari Indonesia. Sebab saya memiliki suatu ketidakpercayaan terhadap karya bangsa sendiri. Seringkali buku-buku lokal berisi cerita picisan yang terlalu meromantisasi dengan bahasa yang berbunga-bunga, padahal muatan maknanya secuil. Sebagai penggila makna, saya sering kecewa pada buku lokal sehingga beberapa tahun ini saya lebih sering membaca buku berbahasa Inggris. Tapi suatu hari saya melihat Anak-Anak Masa Lalu di sebuah toko buku di Depok--entah kenap [...]

    8. Ita says:

      Melongok Ruang Bermain Pengarang Pengarang memiliki ruang main sendiri. Ruang pribadi itu dapat berisi nostalgia, spiritualitas, fantasi, misteri, sejarah, politik atau sebut saja. Ruang suci itulah yang senantiasa memanggil-manggil jiwa kreatif seniman untuk tak berhenti berkarya. Di ruang bermain itu, pengarang tak terpaku zaman. Bahkan mungkin menolak modernitas dan teknologi kalau itu akan menggeser lokasi ruang sucinya. Baginya, yang terpenting adalah dapat selalu kembali ke ruang yang nyam [...]

    9. Imas says:

      Menurut pendapatku Damhuri Muhammad adalah salah satu penulis sastra otentik Indonesia. Karya-karyanya bercerita dengan latar belakang yang hanya terjadi di Indonesia, dengan  penuturan yang juga sangat Indonesia. Damhuri tidak perlu mencari identitas karena dia sudah punya.Buku ini penuh dengan kosa kata berlimpah, kalimatnya kadang pedas tapi juga mendatangkan geli,  dengan  cerita-cerita yang variatif. Mulai dari legenda, cinta tak sampai, dan korupsi. Kisah orang-orang biasa yang ada dise [...]

    10. Nastiti says:

      Saya tidak setuju dengan tulisan di bagian back cover yang menyatakan kalau saat ini banyak cerpen yang berkutat pada cerita permasalahan remaja kota besar. Cerpen dengan latar adat daerah seperti yang tertulis di kumcer ini tak kalah banyak. Masing-masing memiliki pangsa pembaca sendiri-sendiri. Yang jelas surat kabar mencari yang tipe seperti ini. Atau saya yang kurang banyak membaca cerpen? Bisa jadi.Nah, sekarang saya mau membandingkannya secara apple to apple. Bila dibandingkan dengan cerpe [...]

    11. Aesna says:

      Benar seperti apa yang Damhuri katakan pada epiognya bahwa cerita-cerita yang ia tulis memang begitu bernuansa udik, dan jauh sekali dari kesan modernisme. Hal ini tentu berbeda sekali dengan cerita-cerita yang belakangan disuguhkan oleh para pencerita.Namun, yang saya suka --bahkan sangat-sangat suka-- adalah kenyataan bahwa cerita yang Damhuri tulis begitu dekat dengan diri saya secara pribadi, cerita-ceritanya tidak terlalu panjang, namun dalam dan berkesan. Tentu,wong buku ini mlebu KLA.Saya [...]

    12. ucha says:

      Buku 4# - 2016Tadi malam menyelesaikan buku ini yang ditutup dengan epilog yang luar biasa. Kumpulan cerpen ini terdiri atas 14 cerita yang dimuat dalam berbagai surat kabar dalam rentang tahun 2008 sampai 2014. Kisah yang beragam mulai dari legenda, kisah cinta yang getir hingga kritik sosial akan korupsi. Yang menyatukan adalah kesetiaannya mengangkat kisah dari kampung halamannya lengkap dengan penamaan tokoh dan tempat di pelosok. Kumpulan cerpen ini sungguh menyegarkan, dan menyadarkan bahw [...]

    13. Pringadi Abdi says:

      Sebuah cerita yang baik adalah ironi. Aku lupa tahu ini dari siapa. Dan begitulah ceritacerita yang ditulis Uda Damhuri. Terlebih mereka ditulis dengan sangat bersahaja.Ada banyak kisah yang akrab juga dengan saya seperti agar jembatan kokoh, perlu tumbal kepala anakanak, orangorang kebal, dan indahnya naik bergelantungan di mobil bak terbuka.Kurangnya, apa ya, terganggu dengan scene yang berulang, kayak lihat mobil sedan bagus dan pengen mendekatinya

    14. Fazrin Khairulsaleh says:

      tak bisa dipungkiri buku ini benar-benar aku sukai. Tema kenangan masa kecil dan cerita-cerita klenik khas kampung yang disuguhkan beberapa akrab dengan kenanganku. Narasi yang simpel dan mudah ditebak memberi keakraban tersendiri. Buku ini layaknya minyak yang menyembur dari lubang-lubang kenangan Damhuri. Lubang kenangan di otaknya yang dipenuhi fosil-fosil bernyawa.

    15. Marfa Umi says:

      "Kampung yang ketika saya gelap-mata melakukan sebuah kesalahan fatal, hampir menyelenggarakan majlis yasinan guna mendoakan kematian saya." - hal 119dan cerpen Reuni Dua Sejoli menjadi bagian favorit saya, begitu pula buku ini, tak perlu ada bagian akhir yang serba misterius, segalanya mengalir, hangat, pelan, dan menghentak.

    16. Bimana Novantara says:

      Paling suka sama 'Lelaki Ragi dan Perempuan Santan', 'Kiduk Menggiring Bola', dan 'Kepala Air'. Epilognya juga menjadi salah satu bagian terbaik kumpulan cerpen ini. Pahit sekali rasanya saat membacanya.

    17. Ade Faulina says:

      Buku yang menarik dan menyenangkan. Tema-tema sederhana menjadi suguhan istimewa yang pantas untuk dibaca dan direnungkan! ^_^

    18. Permata Ariani says:

      kendesoan dan kekolotan masyarakat tradisional indonesia itu ternyata amajing lah

    19. Dedi Setiadi says:

      Suka banget! Singkat dan efektif.

    20. Steven S says:

      Kumcer yang menarik!Ulasan selengkapnya bisa dibaca di h23bc/2015/09/review-k

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *